32 Views
وَوَجَدَكَ ضَالًّا فَهَدَىٰ (Wa wajadaka ḍaallan fahada) (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.)Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa sebelum diangkat menjadi nabi, beliau berada dalam kebingungan, lalu Allah SWT memberikan petunjuk kepadanya melalui wahyu. Menurut Tafsir Ibnu Ajibah, kebingungan ini merujuk pada kurangnya pengetahuan tentang syariat dan hukum-hukum Allah SWT sebelum diangkat menjadi nabi.
Hikmah: Ayat ini mengingatkan kita bahwa hidayah adalah nikmat yang sangat besar dari Allah SWT. Tanpa hidayah Allah SWT, kita akan tersesat dalam kegelapan dan kebingungan. Oleh karena itu, kita harus senantiasa memohon hidayah kepada Allah SWT dan berusaha untuk memahami dan mengamalkan agama Islam dengan benar.
وَوَجَدَكَ عَائِلًا فَأَغْنَىٰ (Wa wajadaka ‘aa-ilan fa aghnaa) (Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.)Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa sebelum menjadi kaya, beliau adalah seorang yang kekurangan, lalu Allah SWT memberikan kecukupan kepadanya. Dalam Tafsir Al-Zamakhshari, ayat ini menunjukkan bahwa kekayaan bukanlah segalanya. Kecukupan dan kebahagiaan sejati terletak pada rasa syukur dan keberkahan yang diberikan Allah SWT.
Hikmah: Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu mengejar kekayaan duniawi. Kekayaan bukanlah jaminan kebahagiaan. Kita harus berusaha untuk mencari rezeki yang halal dan berkah, serta senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT.
فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلَا تَقْهَرْ (Fa ammal-yatiima falaa taqhar) (Maka terhadap anak yatim janganlah engkau berlaku sewenang-wenang.)Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk tidak berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim. Menurut Tafsir Al-Mawardi, perlakuan sewenang-wenang terhadap anak yatim mencakup menzalimi hak-hak mereka, merampas harta mereka, atau menghina mereka.
Hikmah: Ayat ini menekankan pentingnya memperhatikan dan menyayangi anak yatim. Kita harus memperlakukan mereka dengan baik, memenuhi kebutuhan mereka, dan melindungi hak-hak mereka. Perlakuan baik terhadap anak yatim merupakan salah satu amalan yang sangat dicintai oleh Allah SWT.
وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ (Wa ammas-saa-ila falaa tanhar) (Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah engkau menghardiknya.)Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk tidak menghardik orang yang meminta-minta. Dalam Tafsir Al-Baidhawi, menghardik berarti berbicara kasar atau menolak permintaan dengan cara yang tidak sopan.
Hikmah: Ayat ini menekankan pentingnya bersikap ramah dan santun terhadap orang yang membutuhkan. Jika kita tidak mampu membantu, janganlah kita menghardik mereka. Berikanlah jawaban yang baik dan sopan, dan doakanlah mereka agar diberikan kemudahan.
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (Wa ammaa bi ni’mati rabbika fahaddits) (Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya (menampakkannya).)Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk menyebut-nyebut nikmat Allah SWT, yaitu dengan mensyukurinya, mengakui bahwa semua nikmat berasal dari Allah SWT, dan menggunakannya untuk kebaikan. Menurut Tafsir Al-Alusi, menyebut-nyebut nikmat Allah SWT juga berarti menceritakan nikmat tersebut kepada orang lain dengan tujuan untuk mendorong mereka untuk bersyukur kepada Allah SWT.
Hikmah: Ayat ini mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita. Kita harus menggunakan nikmat tersebut untuk beribadah kepada Allah SWT dan membantu sesama. Mensyukuri nikmat Allah SWT akan mendatangkan keberkahan dan menambah nikmat tersebut.
Tinggalkan Balasan