31 Views
وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ (Wall-laili idzaa sajaa) (dan demi malam apabila telah sunyi,)Allah SWT kembali bersumpah dengan malam ketika sunyi dan tenang. Dalam Tafsir Al-Jalalain, kata “sajaa” diartikan sebagai “tenang dan gelap.” Malam adalah waktu istirahat, waktu di mana segala aktivitas mereda dan manusia mencari ketenangan.
Hikmah: Ayat ini mengajarkan kita untuk menghargai waktu istirahat dan ketenangan. Dalam kesunyian malam, kita dapat lebih introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan memulihkan tenaga untuk menghadapi hari esok. Malam yang gelap juga mengingatkan kita akan pentingnya cahaya iman dan petunjuk Allah SWT dalam menjalani hidup.
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ (Maa wadda’aka rabbuka wa maa qalaa) (Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak (pula) membencimu.)Ayat inilah inti dari penghiburan dalam Surah Ad-Dhuha. Allah SWT menegaskan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa Dia tidak meninggalkan beliau, dan tidak pula membencinya, meskipun wahyu sempat terputus. Menurut Tafsir At-Thabari, ayat ini menepis prasangka orang-orang kafir yang menganggap bahwa Allah SWT telah meninggalkan Nabi Muhammad SAW. At-Thabari menekankan kasih sayang Allah SWT yang tak terbatas kepada hamba-Nya.
Hikmah: Ayat ini menjadi penawar luka bagi siapa saja yang merasa ditinggalkan, dilupakan, atau dibenci. Allah SWT mengingatkan bahwa Dia tidak pernah meninggalkan hamba-Nya, meskipun terkadang ujian datang silih berganti. Keyakinan ini menjadi sumber kekuatan untuk terus berjuang dan berharap kepada Allah SWT.
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَىٰ (Walal-aakhiratu khairun laka minal-uulaa) (Dan sesungguhnya akhirat itu lebih baik bagimu daripada dunia ini.)Allah SWT menjanjikan bahwa kehidupan akhirat jauh lebih baik daripada kehidupan dunia ini. Dalam Tafsir As-Sa’di, ayat ini menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati dan abadi hanya dapat ditemukan di akhirat. As-Sa’di menjelaskan bahwa kenikmatan dunia hanyalah sementara dan terbatas, sementara kenikmatan akhirat abadi dan tak terhingga.
Hikmah: Ayat ini mengingatkan kita untuk tidak terlalu terpaku pada kehidupan dunia yang fana ini. Kita harus menjadikan akhirat sebagai tujuan utama hidup kita, dengan senantiasa beramal saleh dan beribadah kepada Allah SWT. Keyakinan akan kehidupan akhirat yang lebih baik akan memberikan ketenangan hati dan semangat untuk terus berbuat baik.
وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَىٰ (Walasaufa yu’ṭiika rabbuka fatarda) (Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.)Allah SWT menjanjikan karunia yang besar kepada Nabi Muhammad SAW, yang akan membuat beliau puas dan bahagia. Menurut Tafsir Al-Qurtubi, karunia ini mencakup kemenangan Islam, kemuliaan di dunia dan akhirat, serta syafaat bagi umatnya. Al-Qurtubi menafsirkan bahwa kepuasan Nabi SAW adalah manifestasi dari ridha Allah SWT kepadanya.
Hikmah: Ayat ini memberikan harapan bagi siapa saja yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Allah SWT menjanjikan karunia yang besar bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, baik di dunia maupun di akhirat. Keyakinan ini akan memotivasi kita untuk terus beribadah dan beramal saleh, serta bersabar dalam menghadapi ujian hidup.
أَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيمًا فَآوَىٰ (Alam yajidka yatiiman fa aawaa) (Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?)Allah SWT mengingatkan Nabi Muhammad SAW akan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya sejak kecil, yaitu ketika beliau menjadi yatim dan Allah SWT melindunginya. Dalam Tafsir Al-Baghawi, ayat ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT yang luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW, bahkan sejak sebelum beliau menjadi nabi.
Hikmah: Ayat ini mengingatkan kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita, baik nikmat yang besar maupun nikmat yang kecil. Kita juga harus belajar dari pengalaman Nabi Muhammad SAW, bahwa meskipun beliau menghadapi banyak kesulitan sejak kecil, Allah SWT selalu melindunginya. Kepedulian terhadap anak yatim dan mereka yang membutuhkan juga menjadi pesan penting dari ayat ini.
Tinggalkan Balasan