Internasional – Pemerintah Hungaria mengumumkan penarikan diri dari keanggotaan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) yang berbasis di Den Haag, Belanda. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Menteri Hungaria, Gergely Gulyás, tak lama setelah kunjungan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke Budapest pada Kamis (3/4/2025).
Kedatangan Netanyahu disambut secara resmi dengan karpet merah, meski sebelumnya ICC telah menetapkannya sebagai tersangka kejahatan perang terkait konflik di Gaza, Palestina. Laporan ICC menyebut bahwa serangan militer Israel di Gaza menyebabkan lebih dari 50.000 warga sipil tewas.
Sebagai negara anggota ICC sejak 2001, Hungaria secara hukum berkewajiban menahan tersangka kejahatan perang yang mengunjungi wilayahnya. Namun, alih-alih melakukan penangkapan, Perdana Menteri Viktor Orban justru memberikan sambutan hangat kepada Netanyahu, yang bertentangan dengan ketentuan ICC. Orban bahkan menuding lembaga tersebut sebagai institusi yang bermuatan politis.
Langkah Hungaria menarik diri dari ICC mendapat dukungan langsung dari Netanyahu. Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut ICC sebagai lembaga yang tidak adil.
“ICC menyasar mereka yang berperang secara sah dan adil. Hungaria adalah negara pertama yang keluar dari sistem yang korup ini, dan saya yakin langkah itu akan diapresiasi, bukan hanya di Israel, tapi juga di banyak negara lain di dunia,” ujar Netanyahu.

Tinggalkan Balasan