Sikap ini, kata Prof Mujiburrahman, mencerminkan ajaran Islam yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Menurut Mujiburrahman memafkan dalam konteks Islam merupakan ajaran mulia yang sangat dijunjung tinggi. Rasulullah mengajarkan sekaligus memberi teladan bahwa seorang muslim sejati harus memiliki akhlaq mahmudah (karakter terpuji).
“Menahan amarah dan memaafkan tanpa syarat adalah cerminan kepemimpinan sejati. Apa yang dilakukan Pak Menteri adalah implementasi nyata dari nilai-nilai Islam,” ujarnya.
Prof Mujiburrahman mengutip Surat Ali Imran ayat 133-135 yang menegaskan bahwa memaafkan adalah sifat orang bertakwa. Menurutnya, kematangan dan kedewasaan Menag dalam menyikapi tuduhan tak berdasar menunjukkan kualitas kepemimpinan yang patut diteladani.
“Beliau bukan hanya seorang menteri, tapi juga seorang ulama yang dihormati. Beliau adalah ulama kharismatik yang menguasai tafsir Alquran dengan sangat baik. Kapasitas keilmuannya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal diakui luas dan ketokohannya sangat disegani di seluruh Indonesia,” kata Mujiburrahman.
Ia berharap sikap Menag ini menjadi cermin bagi pemimpin lainnya, termasuk gubernur, wali kota, bupati, dan rektor di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.
“Keteladanan semacam ini yang dibutuhkan dalam kepemimpinan nasional,” ujarnya. [ ]

Tinggalkan Balasan