Jalan Keluar dari Kesulitan: Meraih Pertolongan Allah Melalui Doa dalam Surah Al-Isra’ Ayat 79-80
Dalam kehidupan, kita sering kali dihadapkan pada berbagai kesulitan, cobaan, dan tantangan. Kadang, beban terasa begitu berat hingga kita merasa terhimpit dan kehilangan arah. Di saat-saat seperti ini, Islam menawarkan solusi yang ampuh: mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa. Salah satu referensi penting mengenai kekuatan doa sebagai penawar kesulitan dapat ditemukan dalam Surah Al-Isra’ ayat 79-80. Ayat ini, sekilas tampak sederhana, namun menyimpan makna mendalam tentang bagaimana kita dapat memohon pertolongan Allah SWT untuk mengatasi segala problematika kehidupan.
Konteks Surah Al-Isra’ Ayat 79-80
Surah Al-Isra’ (sering juga disebut Surah Bani Israil) adalah surah ke-17 dalam Al-Qur’an. Surah ini diturunkan di Mekkah (Makkiyah) dan mengisahkan berbagai peristiwa penting, termasuk Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, kisah Bani Israil, dan petunjuk-petunjuk kehidupan lainnya. Ayat 79 dan 80 berada di antara ayat-ayat yang menasihati dan memberikan arahan kepada Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi pedoman universal bagi seluruh umat Islam.
Berikut terjemahan dari Surah Al-Isra’ ayat 79-80:
- Ayat 79: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat Tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
- Ayat 80: “Dan katakanlah (Muhammad), “Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara benar dan keluarkanlah aku secara benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
Tafsir Ayat 79: Anjuran Shalat Tahajud
Ayat 79 secara khusus menekankan pentingnya shalat Tahajud. Shalat Tahajud adalah shalat sunnah yang dikerjakan pada sebagian malam setelah bangun tidur. Perintah ini ditujukan pertama-tama kepada Nabi Muhammad SAW, namun berlaku pula bagi seluruh umat Islam.
Shalat Tahajud memiliki keutamaan yang luar biasa. Tafsir Ibnu Katsir, salah satu tafsir klasik yang otoritatif, menjelaskan bahwa shalat Tahajud dapat menjadi sarana untuk ditinggikan derajatnya oleh Allah SWT. Ibnu Katsir menafsirkan “maqamam mahmuda” (tempat yang terpuji) sebagai syafaat kubra, yaitu kedudukan yang agung di hari kiamat di mana Nabi Muhammad SAW akan memberikan syafaat bagi umatnya. (Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Juz 5, halaman 101-102).

Tinggalkan Balasan