30 Views

Konsiderai.com, Aceh Besar – Permainan layang-layang kembali marak dimainkan masyarakat Aceh seiring memasuki musim selepas panen padi. Aktivitas ini muncul karena pada periode tersebut area persawahan mulai lapang, sehingga mendukung permainan.

Bermaterial utama bambu, kertas, tali, dan lem membuat permainan ramah harga itu banyak diminati masyarakat. Di sejumlah wilayah, permainan dikemas dalam bentuk lomba atau turnamen.

Pantauan Konsideria.com pada salah satu arena lomba layang-layang di Desa Pasie Lam Garot, Aceh Besar, Kamis (20/11/2025), terlihat sepanjang jalan menuju area persawahan anak-anak hingga orang dewasa membawa layangan mereka.

Munawwarah, salah satu warga dilokasi lomba layang-layang, menyatakan musim layangan tidak akan berakhir sebelum petani mulai membajak sawah.

“Musim layangan habis pas petani dah mulai turun lagi ke sawah. Sebelum itu masih banyak orang lepas layangan,” kata Munawwarah.

Area persawahan dipadati oleh peserta, penonton, sampai penjual kacang. Berbagai warna layangan menghiasi bentangan sawah yang luas.

Tepat pukul 17.00, panitia memberi instruksi untuk menerbangkan layang-layang. Para peserta langsung bersiap, menarik tali, lalu melepas layang mereka ke langit biru.

Suara gesekan benang terdengar nyaring ketika layang mulai naik.

Penonton menatap ke atas, beberapa di antaranya mengabadikan momen itu dengan handphone pintar.

Setelah layang terbang stabil, benang layang masing-masing peserta diikat pada satu kayu panjang lurus. Dari situ panitia mulai menilai layang. Layang yang berada paling depan di langit dinyatakan sebagai pemenang

Saat benang-benang itu ditempatkan di satu titik, beberapa layang ada yang saling bersinggungan. Ada yang putus, dan anak-anak yang sudah menunggu langsung berlarian mengejar layangan jatuh.

Dalam jangka lima menit setelah diikat, panitia putuskan beberapa pemenang.

Tim pemenang bersorak, disambut tepuk tangan penonton.

Layang-layang kemudian diturunkan, dan pemenang menerima piagam dari panitia. [Aura Sura Aini]